ISET & ACCESS PHASE II SEHATI MENDAMPINGI DESA MANDIRI-BERDAULAT DI 45 DESA Se-KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

Posted on 6 April 2013. Filed under: Penguatan Masyarakat Sipil |


DSC_0376ISET (Institute for Studies, Empowerment, and Transformation of Selayar Community) merupakan LSM yang berdiri sejak tahun 2007 dan memusatkan aktifitasnya di Kabupaten Kepulauan Selayar. Dalam perjalanan pengabdiannya, LSM yang mengusung visi “Anak, Perempuan, Masyarakat Marginal yang Berdaya untuk Lingkungan yang Terjaga.”,telah berkolaborasi dengan banyak pihak dalam mengejawantahkan program dan kegiatan-kegiatannya, baik dengan LSM internasional, regional, maupun dengan LSM lokal dan pemerintah daerah. Pada masa awal berdirinya, ISET antara lain pernah menangani Program MCRP (Mainstreaming Children’s Rights and Participation/ Program Pengarusutamaan Hak & Partisipasi Anak) dan pendampingan organisasi DAS (Dewan Anak Selayar). Juga pernah melaksanakan beberapa riset, antara lain tentang kontribusi APBD terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Selayar.

Kini menjelang 6 tahun usianya, ISET dengan disupport oleh ACCESS PHASE II (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme) dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, kembali meluncurkan program “Peningkatan Peran dan Fungsi Pemerintahan, Kelembagaan dan Organisasi Warga untuk Penyelenggaraan Tata Kelola Pemerintahan Lokal Demokratis Menuju Desa Mandiri-Berdaulat di Kabupaten Kepulauan Selayar.” Program yang pada tataran implementasi melakukan pendampingan pada tiga komponen desa (Pemerintahan Desa, KPM- Kader Pemberdayaan Masyarakat, & Organisasi Warga) bekerja di 45 desa dalam tujuh kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Ke-45 desa tersebut digawangi oleh 16 orang Fasilitator Pendamping (Fasdam) yang terdiri atas 6 orang bertindak sebagai Koordinator Tim dan 10 orang lainnya bertindak selaku Anggota Tim. 16 orang Fasdam tersebut memiliki latar belakang yang sangat beragam, baik tingkat pendidikan maupun pengalaman pendampingan, namun mereka dipertemukan dalam satu mimpi bersama tentang desa yang mandiri dan berdaulat melalui penguatan perencanaan, penganggaran, dan pengelolaan pembangunan.

Program yang mulai running per 25 Februari 2013 tersebut mematok beberapa indikator yang ditargetkan dapat dicapai hingga 24 Desember 2013, antara lain meningkatnya partisipasi semua komponen masyarakat terutama kaum perempuan, orang yang teridentifikasi miskin, dan orang/kelompok yang termarginalkan dalam proses pembangunan desa. Selain itu, proses-proses perencanaan penganggaran berjalan sebagaimana mandat regulasi, mekanisme dan siklusnya. Musrenbang Desa kemudian menjadi bergairah dan ramai dengan kehadiran banyak komponen masyarakat. Kehadiran yang tentu saja tidak sekedar datang dan diam, tapi mampu berkontribusi aktif dan positif terhadap muatan usulan yang dihasilkan. Usulan-usulan yang tentu berangkat pada pemahaman yang baik tentang potensi dan aset desa yang dimiliki serta merupakan penjabaran dari RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) yang telah dirumuskan bersama. Rumusan perencanaan tersebut kemudian teranggarkan pada dokumen APBDes (Anggaran Pendapatan & Belanja Desa) nya, sehingga betul-betul nyambung dan sinambung antara dokumen RPJMDes, RKPDes (Rencana Kegiatan Pembangunan Desa), & APBDes nya. Pemanfaatan anggaran pun kemudian terkelola secara profesional dan transparan, lalu mampu dipertanggungjawabkan dengan baik oleh pihak penyelenggara pemerintahan desa.

Pendampingan terhadap siklus yang kelihatannya sederhana, tapi jika tidak dimenej dengan baik akan berdampak pada ketidakmandirian dan ketidak berdaulatan warga desa. Lalu mungkinkah mandiri-berdaulat itu dicapai dalam jangka waktu yang kelihatannya demikian singkat? Jawabannya sangat mungkin karena yang akan mandiri dan berdaulat itu bukan ISET, tapi warga desa sendiri. Namun demikian, untuk mendukung keyakinan tersebut, beberapa strategi tetap dilakukan ISET antara lain adalah dengan membangun Tim Pelaksana yang kuat, solid, mandiri, dan profesional serta membangun kemitran multipihak dengan semua stakeholder desa. Pendampingan ini hanyalah laksana suplemen yang diberikan atas dasar cinta pada warga desa dan kedaulatannya. Ketika hubungan dan perlakuan itu dilandasi oleh cinta, maka pola hubungan akan terbangun sehat, termasuk tentunya hubungan Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten. Singkirkanlah sejenak frase ‘tidak mampu’ untuk labeling warga desa dan pemerintahannya, niscaya Desa Mandiri-Berdaulat akan menjadi kenyataan yang mampu mengantarkan warga desa mencapai kemajuan, kesejahteraan yang dilandasi oleh nilai dan spirit religi sebagaimana visi yang didambakan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Semoga dan Salam Desa Mandiri-berdaulat.


Penulis Oleh : Muhammad Ihsan Maro
Direktur Eksekutif ISET sekaligus sebagai Koordinator Program kerjasama ISET – ACCESS PHASE II.

  • Alih Bahasa

  • Deadline Activities




  • Publication

    150740_626034187410216_2044183302_n
    • 1,395 Kunjungan
  • CPANEL ISET

  • Kategori

  • Arsip

  • Support

    ACCESS Phase II
    Logo ACCESS Cover Belakang
    BPPKB Selayar
    index
    71095_135266290090_5844531_n

  • Marquee Text Generator - http://www.marqueetextlive.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: